27.3 C
Jakarta
Rabu, Agustus 19, 2026
spot_img

Dari Pekarangan menjadi Produk Bernilai: Tim UMS Latih Pembuatan Jamu Kering Berbasis TOGA di LKSA PAKYA Mojolaban

Sukoharjo – Tanaman Obat Keluarga (TOGA) selama ini dikenal sebagai “apotek hidup” yang banyak ditanam di pekarangan rumah. Namun, jika diolah dengan tepat, tanaman herbal seperti jahe, kunyit, temulawak, dan kencur tidak hanya bermanfaat untuk menjaga kesehatan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan. Berangkat dari potensi tersebut, Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan pelatihan pembuatan jamu kering berbasis TOGA di LKSA PAKYA Mojolaban, Sukoharjo. Kegiatan yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Tahun 2026 ini diikuti oleh 30 siswa panti putri dan 5 orang perwakilan pengurus panti.

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam mengolah tanaman obat menjadi produk herbal kering yang praktis, higienis, dan memiliki daya simpan lebih lama. Selain itu, pelatihan ini juga diharapkan dapat menumbuhkan jiwa kewirausahaan melalui pengembangan produk herbal lokal yang bernilai ekonomi.

Ketua tim pengabdian, Ima Aryani, menjelaskan tanaman obat yang ada dipekarangan harus dapat dimanfaatkan, tetapi pemanfaatannya masih didominasi dalam bentuk tradisional dengan masa simpan yang relatif singkat. Melalui pelatihan ini, peserta dikenalkan pada teknik pengolahan TOGA menjadi serbuk jamu kering sehingga lebih mudah dikemas, disimpan, dan dipasarkan.

“Jamu bukan hanya bagian dari warisan budaya Indonesia, tetapi juga memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi produk kesehatan yang modern, higienis, dan memiliki daya saing. Harapannya, peserta mampu memanfaatkan potensi tanaman obat di pekarangan panti asuhan menjadi produk yang bermanfaat sekaligus bernilai ekonomi,” ujarnya.

peserta juga mengikuti praktik langsung pembuatan jamu serbuk berbahan jahe. Dengan pendampingan tim pengabdian, peserta mempraktikkan setiap tahapan produksi mulai dari persiapan bahan hingga menghasilkan serbuk jamu kering siap kemas. Antusiasme peserta terlihat selama kegiatan berlangsung berbagai aktifitas dan diskusi tentang pengembangan produk herbal sebagai usaha mandiri.

Sebagai bagian dari upaya membangun identitas produk, tim pengabdian juga memperkenalkan contoh desain kemasan dan label produk PAKYA Herbal, sebuah merek yang dirancang sebagai identitas produk herbal hasil karya LKSA PAKYA Mojolaban. Melalui kemasan yang menarik dan informatif, produk diharapkan memiliki nilai tambah sehingga mampu bersaing di pasaran sekaligus menjadi media pembelajaran kewirausahaan bagi para siswa panti.

Pengemasan produk serbuk jamu
Pengemasan produk serbuk jamu

Anggota tim PKM, Efri Roziaty, menjelaskan pengolahan TOGA menjadi jamu kering tidak hanya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga saja. Produk tersebut juga berpotensi untuk menjadi produk yang memiliki nilai tambah apabila dikemas dengan baik dan dipasarkan dengan tepat.

“Harapannya, keterampilan yang diperoleh dalam pelatihan ini bisa dipraktikkan kembali. Bukan hanya untuk konsumsi sendiri, tetapi juga bisa menjadi ide kegiatan produktif jika dikembangkan lebih lanjut, untuk menambah pendapatan Panti” ujar Efri.

Pemanfaatan TOGA menjadi jamu kering memberikan alternatif pengolahan tanaman obat yang lebih praktis. Tanaman yang sebelumnya dimanfaatkan dalam bentuk segar dapat diolah melalui proses pengeringan sehingga lebih mudah disimpan dan digunakan.

Tim pengabdian berharap keterampilan yang diperoleh peserta dapat terus dikembangkan. Pengembangan selanjutnya dapat diarahkan pada inovasi kemasan, pelabelan, keamanan produk, hingga pemasaran apabila produk akan dikembangkan sebagai kegiatan produktif.

Penulis: Ima Aryani

Redaksi: fam

Artikel Terkait

- Advertisement -spot_img

Terbaru