26.6 C
Jakarta
Kamis, April 16, 2026
spot_img

BERBAIK SANGKA, JALAN KETENANGAN ORANG BERIMAN

Mukadimah

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Segala puji bagi Allah ﷻ.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang istiqamah di atas sunnahnya hingga hari kiamat.

Jamaah sekalian,

Kita semua adalah saudara kematian.

Tidur adalah kematian kecil.

Allah menceritakan tentang Ashabul Kahfi yang tidur selama 309 tahun, namun ketika mereka bangun mereka berkata:

قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ

“Mereka berkata: Kita tinggal (tidur) sehari atau setengah hari.”

(QS. Al-Kahfi: 19)

Inilah bukti bahwa tidur dan bangun adalah nikmat besar.

Karena itu, Nabi ﷺ ketika bangun dari tidur selalu berdoa:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya kami akan dibangkitkan.”

(HR. Bukhari)

Nikmat Sehat yang Sering Dilalaikan

Rasulullah ﷺ bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu (lalai) padanya:

nikmat sehat dan waktu luang.”

(HR. Bukhari)

Sering kali kita lebih mementingkan kekayaan daripada kesehatan.

Kaya itu tidak tercela, tetapi sehat jauh lebih utama, terutama bagi orang yang bertakwa.

Apa gunanya kaya tapi tidak bisa kencing?

Namun berapa banyak dari kita yang tidak bersyukur atas nikmat bisa kencing dengan lancar.

1️⃣ Berbaik Sangka kepada Allah ﷻ

Jamaah sekalian,

Hari ini kita diajarkan untuk memulai hidup dengan berbaik sangka kepada Allah.

Allah ﷻ berfirman:

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu.”

(QS. Al-Baqarah: 216)

Allah Maha Mengetahui, sedangkan kita tidak.

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Aku tidak peduli bagaimana keadaanku di pagi hari, apakah aku menyukainya atau membencinya, karena aku yakin Allah lebih tahu mana yang terbaik.”

Sering kali kita sudah merencanakan sesuatu, tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.

Ada yang berharap satu hal terwujud, namun Allah tidak takdirkan, bahkan sampai meninggal dunia.

Ujian Besar di Perang Ahzab

Pada tahun ke-5 Hijriyah, sekitar 10.000 pasukan datang untuk menghancurkan Madinah.

Jumlah kaum muslimin saat itu kurang dari 10.000 orang.

Allah menggambarkan keadaan itu:

إِذْ جَاءُوكُمْ مِنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ

“Ketika mereka datang kepadamu dari atas dan bawahmu, ketika mata terbelalak dan hati sampai ke tenggorokan.”

(QS. Al-Ahzab: 10)

Orang-orang munafik berburuk sangka kepada Allah,

namun orang-orang beriman berkata:

هَٰذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ

“Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami.”

(QS. Al-Ahzab: 22)

Allah berfirman:

وَزُلْزِلُوا زِلْزَالًا شَدِيدًا

“Dan mereka diguncangkan dengan guncangan yang sangat dahsyat.”

(QS. Al-Ahzab: 11)

Namun hasilnya:

وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا

“Ujian itu tidak menambah mereka kecuali iman dan kepasrahan.”

(QS. Al-Ahzab: 22)

Karena itulah orang yang paling berat ujiannya adalah para Nabi.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang shalih.”

(HR. Tirmidzi)

Ketika Nabi ﷺ merasa terpukul oleh pengkhianatan Bani Quraizhah, beliau sempat menutup wajahnya dengan kain, lalu bangkit dan bersabda:

اللَّهُ أَكْبَرُ، أَبْشِرُوا

“Allahu Akbar, bergembiralah!”

Karena ketika hati bergantung penuh kepada Allah, maka pertolongan Allah pasti datang.

Allah berfirman:

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan.”

(QS. Ghafir: 60)

2️⃣ Berbaik Sangka kepada Sesama Manusia

Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

“Wahai orang-orang beriman, jauhilah banyak prasangka, karena sebagian prasangka itu dosa.”

(QS. Al-Hujurat: 12)

Pada tahun 8 Hijriyah, sebelum penaklukan Makkah, Nabi ﷺ merahasiakan strategi perang.

Hatib bin Abi Balta’ah radhiyallahu ‘anhu melakukan kesalahan besar dengan mengirim surat rahasia.

Ketika dihadapkan kepada Nabi ﷺ, beliau bertanya:

يَا حَاطِبُ، مَا هَذَا؟

“Wahai Hatib, apa ini?”

Hatib berkata bahwa ia melakukannya bukan karena kufur, tetapi karena urusan dunia.

Umar bin Khattab ingin menghukumnya, namun Rasulullah ﷺ bersabda:

“Dia telah ikut Perang Badar.”

Lalu Rasulullah ﷺ bersabda:

لَعَلَّ اللَّهَ اطَّلَعَ عَلَى أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ: اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ

“Allah telah melihat ahli Badar dan berfirman: Lakukan apa yang kalian kehendaki, sungguh Aku telah mengampuni kalian.”

(HR. Bukhari & Muslim)

Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa setiap manusia bisa salah:

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ

“Setiap anak Adam pasti berbuat salah.”

(HR. Tirmidzi)

Penutup & Doa

Rasulullah ﷺ berdoa:

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu hati yang selamat dan lisan yang jujur.”

Di zaman yang penuh fitnah ini, yang paling kita butuhkan adalah hati yang bersih dan prasangka yang baik.

Semoga kita termasuk hamba yang:

berbaik sangka kepada Allah,

berbaik sangka kepada manusia,

dan kuat menghadapi ujian.

Barakallahu fikum.

Subhānaka Allāhumma wa bihamdika, asyhadu an lā ilāha illā anta, astaghfiruka wa atūbu ilaik.

Dr Ustadz Syafiq Reza BasalamahBasalamah. LC, MA

 

Artikel Terkait

- Advertisement -spot_img

Terbaru