Hebat! Dosen Pendidikan Biologi FKIP UMS Paparkan Perkembangan Riset Etnobotani dan Potensinya sebagai Bahan Ajar Kontekstual
Surakarta – Matafaktanews.com. Perkembangan riset etnobotani di Indonesia menunjukkan tren yang semakin kuat, tidak hanya sebagai upaya pelestarian pengetahuan lokal masyarakat, tetapi juga sebagai sumber inovasi dalam dunia pendidikan. Hal tersebut disampaikan dosen Pendidikan Biologi FKIP UMS sekaligus periset bidang etnobotani, Dr. Santhyami, M.Si, yang diwawancarai mengenai keterkaitan riset etnobotani dengan pengembangan bahan ajar kontekstual.
Etnobotani tidak lagi sekadar dokumentasi
Dalam wawancaranya (10/6/2026), ia menjelaskan bahwa etnobotani tidak lagi dipahami sekadar sebagai dokumentasi pemanfaatan tumbuhan oleh masyarakat tradisional. Saat ini, riset etnobotani berkembang menjadi kajian multidisipliner yang menghubungkan aspek ekologi, budaya, kesehatan, ekonomi, hingga pendidikan.
“Indonesia memiliki kekayaan pengetahuan lokal yang sangat besar terkait tumbuhan. Pengetahuan ini perlu diteliti secara ilmiah, didokumentasikan, dan dimanfaatkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat modern, termasuk dalam dunia pendidikan,” ujarnya.
Ia mencontohkan berbagai penelitian yang dilakukan di sejumlah daerah di Jawa Tengah, termasuk kajian tentang tanaman obat tradisional, tumbuhan pangan lokal, serta praktik pengelolaan lingkungan berbasis kearifan lokal masyarakat. Menurutnya, hasil penelitian semacam ini memiliki nilai strategis karena memadukan sains modern dengan pengetahuan budaya yang diwariskan turun-temurun.
*Bahan ajar kontekstual*
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya memanfaatkan hasil riset etnobotani sebagai bahan ajar kontekstual di sekolah maupun perguruan tinggi. Bahan ajar kontekstual dinilai mampu membuat pembelajaran lebih dekat dengan kehidupan siswa sehingga konsep biologi tidak terasa abstrak.
“Ketika siswa belajar tentang keanekaragaman hayati melalui tanaman yang ada di lingkungan mereka sendiri, pembelajaran menjadi lebih bermakna. Mereka tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mengenali identitas budaya dan potensi lokal daerahnya,” jelasnya.
Beberapa bentuk implementasi yang dapat dilakukan antara lain pengembangan modul pembelajaran berbasis tanaman lokal, lembar kerja peserta didik (LKPD) dengan studi kasus kearifan lokal, serta proyek pembelajaran lapangan yang melibatkan observasi langsung terhadap pemanfaatan tumbuhan oleh masyarakat.
*Meningkatkan literasi sains dan kepedulian lingkungan*
Menurutnya, pendekatan ini juga sejalan dengan penguatan literasi sains dan pendidikan berkelanjutan. Siswa diajak untuk menganalisis hubungan antara manusia dan lingkungan, memahami pentingnya konservasi tumbuhan lokal, serta mengembangkan sikap apresiatif terhadap budaya masyarakat.
Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UMS sendiri terus mendorong pengembangan penelitian etnobotani melalui kolaborasi dosen, mahasiswa, dan masyarakat. Hasil-hasil penelitian tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah, tetapi dapat diterjemahkan menjadi produk pendidikan yang aplikatif.
*Menjembatani sains dan budaya*
Di tengah arus globalisasi, integrasi etnobotani dalam pendidikan dipandang sebagai langkah penting untuk menjaga keberlanjutan pengetahuan tradisional sekaligus meningkatkan kualitas pembelajaran biologi.
“Pendidikan tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membangun kesadaran akan nilai budaya dan lingkungan. Etnobotani dapat menjadi jembatan antara sains dan budaya dalam proses pembelajaran,” tutupnya.
Redaksi. Fam


