Jakarta – Matafaktanews.com. Dinamika internal Nahdlatul Ulama (NU) kembali memanas dengan adanya rencana pelaksanaan Pra-Muktamar Musyawarah Luar Biasa (MLB) PBNU yang dijadwalkan pada 17-21 Desember 2024 di Jawa Timur. Agenda ini disebut-sebut diprakarsai oleh Presidium yang dipimpin Gus Salam, paman dari Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar (Cak Imin).
Aktivis muda NU, Billy Kausary, mengungkapkan bahwa pelaksanaan Pra-Muktamar ini diduga kuat melibatkan seorang oknum menteri dalam Kabinet Merah Putih. “Indikasi ini harus menjadi perhatian bersama karena bisa menciptakan ketegangan antara PBNU dengan pemerintahan Prabowo-Gibran ke depan,” ujarnya.
Billy menilai bahwa pemerintah membutuhkan NU sebagai mitra strategis dalam menjaga stabilitas nasional dan mendukung pembangunan, termasuk di bidang pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan masyarakat. Ia menegaskan bahwa intervensi dari pihak eksternal hanya akan memperkeruh dinamika internal PBNU.
PBNU dan Sikap Tegak Lurus
Ketegangan antara PBNU dan PKB mulai mencuat sejak Muktamar PBNU di Lampung yang menetapkan KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) sebagai Ketua Umum PBNU dan KH. Miftahul Ahyar sebagai Rais Aam. Tak lama setelah itu, Gus Salam dipecat dari PBNU, yang memicu perpecahan.
Dalam pernyataannya, Gus Yahya menegaskan bahwa PBNU adalah organisasi keagamaan yang tidak berafiliasi dengan partai politik mana pun. “PBNU tegak lurus pada asas independensi,” ucapnya, merespons klaim PKB sebagai representasi politik warga Nahdliyin.
Namun, klaim PKB yang dinyatakan oleh Cak Imin bahwa pernyataan Gus Yahya tidak akan memengaruhi suara PKB di Pemilu 2024 semakin memperuncing perbedaan pandangan.
MLB PBNU dan Kritik Tokoh NU
Ketua PWNU Jawa Timur, Gus Kikin, menilai bahwa Presidium MLB PBNU yang digagas Gus Salam belum memenuhi syarat sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) NU. Kritik serupa juga datang dari Andi Jamaro Dulung, mantan pengurus PBNU era KH. Hasyim Muzadi, yang menyebut gerakan MLB sebagai “Kelompok Kriminal Bersenjata NU” (KKB NU).
“Kembali ke pangkuan PBNU adalah langkah terbaik demi menjaga persatuan umat dan para ulama pesantren,” tegas Andi Jamaro.
Seruan Islah dan Rekonsiliasi
Billy Kausary menyerukan agar konflik ini diselesaikan melalui jalan tengah. Ia mengusulkan agar Gus Salam ditarik kembali ke PBNU dengan posisi strategis, seperti Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBNU. “Islah ini tidak hanya memperkuat PBNU sebagai jam’iyah yang bermarwah, tetapi juga menjadi teladan persatuan bagi bangsa,” ujarnya.
Harapan untuk Pemerintah Prabowo-Gibran
Billy juga mengingatkan pemerintah agar menjaga hubungan yang harmonis dengan PBNU. “Pemerintahan Prabowo-Gibran membutuhkan dukungan organisasi seperti NU yang telah berkontribusi besar dalam sejarah bangsa, mulai dari perjuangan kemerdekaan hingga pembangunan nasional,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah fokus pada visi persatuan nasional yang sering disampaikan Presiden Prabowo dalam pidato-pidatonya. “Dengan sinergi antara PBNU dan pemerintah, pembangunan di berbagai sektor dapat berjalan lancar demi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia,” tutup Billy.
Red


